Seorang Ateis dan Seekor Beruang - Cerita Inspiratif

Cerita tentang Seorang Ateis dan Seekor Beruang


Seorang ateis (yaitu seseorang yang dengan gigih tidak percaya pada Tuhan atau dewa apapun) pada suatu hari libur sedang melakukan trekking di suatu hutan lebat ketika tiba-tiba ia tersesat.

Seekor beruang besar dan ganas dengan cakar seperti pisau dapur, dengan sepuluh anaknya yang kelaparan sedang kembali ke sarangnya, tiba-tiba muncul dari semak-semak.

Si ateis berteriak ketakutan, berbalik dan berlari. Namun si beruang lebih cepat, dan setelah lama kejar-kejaran akhirnya hewan buas itu berhasil memojokkan si ateis.

Si ateis yang kelelahan berlutut, gemetar.

Sang beruang, melihat bahwa mangsanya terjebak, bergerak perlahan ke arah laki-laki yang sedang ketakutan dan meneteskan air liur itu. Sang beruang pun meneteskan air liur juga.

Si ateis mengangkat kepala, dengan berlinangan air mata sambil mengucapkan kata-kata yang dia pikir tidak akan pernah dikatakannya seumur hidupnya: "Tuhan, tolong aku ..."

Dengan tiga kata sederhana ini, sebuah kilat yang menyilaukan menerangi langit. Terdengar bunyi guntur yang memekakkan telinga. Awan tercerai-berai. Sebuah cahaya terang bersinar ke bawah. Hutan terdiam. Si beruang terdiam membeku, terpana. Sedang si ateis berdiri menganga, terpaku.

Sebuah suara terdengar keras dari langit. Lebih keras dari dua puluh konser AC/DC yang terjadi pada waktu yang sama.

"Wahai kau ateis, kau sudah membuat-Ku sangat marah," kata suara yang menggelegar itu, "Sepanjang hidupmu kau selalu menolak Aku. Kau juga mengajak orang lain untuk menolak Aku. Kau justru mempercayai semua omong kosong realistis ilmiah si Darwin sialan itu, dan sekarang sungguh suatu kejutan – kau tersesat karena tidak bisa membaca peta bodohmu itu, dan kini kau akan dimakan oleh seekor beruang yang ganas lalu tiba-tiba kau berlutut dan meminta bantuan-Ku? Kau pasti bercanda... "

Si ateis memandang ke bawah, menyadari bahwa ia tidak memiliki posisi yang kuat.

"Oke, aku paham maksud-Mu," kata si ateis, sambil berpikir, "Aku bisa melihat bahwa kini agaknya sudah terlambat bagiku untuk beragama, tapi bagaimana dengan beruang itu? ... Mungkin Engkau dapat menjadikannya seekor beruang yang beragama?"

"Hmmn ... ide yang menarik ..." kata suara dari langit tadi, "... Oke. Ini akan dilakukan." Lalu cahaya yang terang tadi itu pun meredup dan menghilang; tertutup awan, dan terdengar kembali suara-suara hutan.

Sang beruang terbangun dan menggeleng-gelengkan kepalanya, kini tampak ekspresi yang sama sekali berbeda di wajahnya. Tenang, damai.

Kemudian sang beruang menutup mata, menundukkan kepalanya, dan berkata, "Untuk rizki yang kita terima hari ini, semoga Tuhan menjadikan kita hamba-Nya yang selalu bersyukur... Amiin..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan mengisi komentar atas posting yang telah Anda baca. Harap tidak melakukan SPAM atau menggunakan kata-kata kotor, jorok, menyinggung SARA, dsb. Terima kasih :)